This is us

By: Shofa Ramadhan

Masa-masa SMA ku sudah berakhir, dan itu juga sekaligus mengakhiri kisah cintaku di bangku sekolah. Memang benar, jika banyak orang yang berkata jika masa SMA tidak akan pernah terlupakan dan merupakan masa remaja yang paling indah. Karena tubuh serta otak kita banyak menstimulasi tentang perasaan jatuh cinta dan labilnya hati. Banyak hal yang aku dapat di SMA, seperti aku banyak berdebat dengan orang tua, dibolehkan nya aku keluar malam, jalan kemana-mana, dan juga berpacaran. Aku berpacaran sebanyak 3 kali dan menjalani hubungan tanpa status selama 1 tahun, dan yang paling aku ingat adalah pada aku nangis karena cinta untuk pertama kalinya yaitu pada saat aku berpacaran dengan Rama, 4 bulan hubungan kita baik-baik saja. Namun 31 Desember tiba-tiba saja ia minta putus, entah apa alasan nya. Dan itu pada saat malah tahun baru.

Dan malam itu juga aku melewatkan tahun baru, karena aku lebih fokus terhadap sakit hatiku. Berjam-jam aku bbm, sms, dan telfon tidak kunjung direspon. Aku sedih, apa yang terjadi dan apa salahku? Apa yang telah ku perbuat sampai dia begitu tega memutus hubungan denganku. Sampai pada tahun baru 1 januari tetap saja dia tidak memberikan respon padaku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mau lagi berhubungan dengan nya. Aku berfikir jika sekarang dia sudah tidak menghargaiku lagi, karena dia begitu saja memutuskan kontak dengan ku.

Akhirnya aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Rama. Sampai pada saat 2 minggu setalah putus, Rama mengirimu pesan “hai”. Pada saat itu juga aku berteriak dan membuang jauh-jauh handphoneku. Aku meluapkan emosi. Kenapa tiba-tiba dia seperti itu. Namun aku lansung mendelete kontak dia dari bbm ku. Memblokir line dan juga whatsapp. Susah payah aku bangkit dan ingin merasakan jatuh cinta lagi, namun seenaknya saja tanpa merasa bersalah dia mengirimku pesan seperti itu.

Tanggal 23 Januari akan diadakan ziarah ke kota Banten, sekaligus refreshing sebelum Ujian Nasional berlangsung. Dan aku merasa senang karena aku bisa merefresh otaku dan membuang jauh-jauh fikiran tentang Rama. Aku juga merasa senang karena 1 bis dengan mantan ku yang ke 2 yaitu Vero. Vero dan hampir semua siswa disekolah SMA ku tau jika aku sudah jomblo. Maklum saja aku berpacaran dengan adik kelas, dan otomatis itu juga memmbuatku terkenal. Walaupun sebelumnya aku juga sudah banyak dikenal oleh orang karena aku wakil OSIS.

Dan pada saat perjalanan menuju banten Vero selalu mendekatiku, kemanapun. Sampai pada saat perjalanan pulang, ketika semua guru dan siswa dalam keadaan lelah. Vero duduk disebelahku, aku dipojok sambil memeluk jaket, dan handphone aku letakan di depan kursi. Vero duduk disebelahku ketika aku tertidur, dan disebelah Vero ada temanku yang bernma nida. Karena bangku bis kita yang muat untuk 3 orang. Aku menghadapkan palau ke tembok, dan aku yakin kalau Vero sedang tidur disebelahku. Beberapa menit aku tertidur, handphoneku berbunyi. Akhirnya aku mengambil handphone ku dan melihat ada tanda BBM masuk, setelah ku lihat itu adalah pesan dari Rama. Ia mengirim pesan. “udah sampe mana??” aku balas, “udah di Jakarta” lalu Vero tiba-tiba terbangun dan bertanya “mau ngapain lagi dia?”

Aku kaget, ternyata sedari tadi aku melihat handphone, Vero terbangun dan memperhatikan ku. Dengan spontan dan aku meykinkan diriku jangan gugup. Aku menjawab “tadi dia nanya udah sampe mana, terus mobile data langsung gue matiin ko. Gak penting” setelah itu aku langsung meletakan hpku lagi ditempat semula. Pada saat hampir sampai di sekolah, sekitar jam 11 malam. Aku sudah menelfon orangtuaku untuk diperbolehkan menginap dirumah temanku yang terdekat. Akhirnya, aku diantar oleh Vero kerumah salah satu temanku bernama Dehan. Sepanjang jalan aku mengobrol dengan nya dimotor. Membicarakan kisah cinta masing-masing.

Lalu setelah itu, aku bilang padanya untuk pelan-pelan bawa motornya, takut kelewatan. Dan ternyata benar kelewatan, yaudah tapi aku menutupi kegengsianku untuk bilang kelewatan, kita belok kanan lewat jalan pintas belakang rumah nya. Dan ternyata pagar blakang rumahnya digembok, lalu kita lurus lagi untuk menemukan jalan keluar, karena jalan itu sempit sekali. Akhirnya aku sok-sokan tau jalana, aku bilang “udah disini aja, nanti gue tinggal masuk kedalem jalan dikit doing” terus yaudah, aku jalan terus sambil bilang “makasih ya zal, hati-hati” akhirnya aku jalan kedalem dengan perasaan deg-degan. Karena banyak sekali cowo dan bapak-bapak disana. Pas aku jalan aku lurus dan ternyata banyak sekali segerombolan cowo sedang berkumpul bermain catur sambil minum-minum. Ketika aku langsung lekas berbalik badan dan pergi, aku memastikan Vero sudah pergi, karena gengsi juga kalo ketauan salah jalan. Akhirnya aku jalan keluar, dan ada seorang bapak-bapak yang tadi melihat aku dan Vero. Dia berkata “salah jalan ya neng, orang yang tadi udh pergi” lalu aku berlekas jalan dengan cepat menghilang dari tempat tadi.

Akhirnya aku jalan kaki kearah rumah dehan bagian depan. Dan sampai disana aku bersih-bersih badan. Dan aku menceritakan kejadianku dengan dehan, dehan pun setuju tidak setuju jika aku dekat lagi dengan Vero, mengingat dia dulu memutuskan hubungan denganku hanya karena aku susah untuk diajak jalan keluar. Padahal aku sering jalan dengan teman-temanku. Akhirnya setelah keesokan harinya aku memutuskan untuk tidak berhubunga dengan laki-laki manapun. Aku benar-benar lelah berpacaran. Sakit hati, kenal orang baru, berkenalan lagi, mulai lagi dari awal semuanya. Aku benar-benar ingin langsung ada yang mengajak ku taaruf. Tanpa berpacaran. Yang serius denganku. Apalagi aku sudah mau kuliah.

Ketika aku lulus SMA, aku mulai mendaftar dibeberapa universitas. Sampai aku diterima di PoliMedia Jakarta. Disana, aku menemukan keluarga baruku yang akan menemani selama 3 tahun. Aku berkenalan dengan seorang lelaki yang bernama Radja. 2 bulan aku berkenalan dengan nya. Ia begitu menarik perhatian ku. Sampai pada suatu saat dia meminta aku bertemu dengan nya. Ia menemuiku di perpustakaan. Selesai pelajaran aku langsung meghampirinya menuju perpus. Ia memilih tempat dengan 4 bangku, 2 bangku saling berhadapan yang mendapat view taman dan jalan yang terlihat dengan jelas melalui kaca.

Aku datang dan menyapa nya, “hai ja” lalu dia bilang, “halo, duduk sini” akhirnya aku duduk berhadapan dengan nya. Aku melepas tas ku, meletakan handphone yang sedari tadi kupegang diatas meja. Dan dia mulai meletakan kamera yang dia pegang di meja. Juga menutup buku yang sedari tadi sudah terbuka. Ia lalu memulai pembicaraan …..

Dan setelah mendengar semua pembicaraan Radja, intinya dia suka padaku. Dia bahkan sudah jatuh cinta padaku. Namun aku berkata dijika aku lelah berpacaran. Aku tidak ingin berpacaran. Dan radja pun sangat-sangat menghargai perasaan dan pendapatku. Walaupun jujur saja aku juga mulai mencintai dia. Namun aku merasa ingin selalu dekat dengan nya. Ingin berpacaran. Namun aku tidak mau mengubah prinsipku. Aku harus konsisten.

Sampai pada akhirnya aku sering jalan dengan radja namun tanpa status pacaran, tapi aku juga tidak pernah melakukan hal yang diluar agama. Seperti berpegangan/ intinya bersentuhan yang bukan muhrim. Dan aku juga sangat tersanjung dengan apa yang dilakukan radja padaku. Ia benar-benar sangat menghargaiku. Sampai aku berfikir, dial ah yang selama ini aku cari. Lelaki yang menghargaiku. Menerima aku apa adanya. Sampai kita lulus dari polimedia, dia diterima kerja di New York. Dan aku mendapat beasiswa di negara kincir angin, Belanda.

Dari awal radja menyampaikan perasaan padaku, sampai kita diwisuda di Smesco. Ia tidak pernah menjauh dariku, selalu memperhatikan bagaimana keadaanku. Padahal kita jarang mengirim pesan satu sama lain, jarang bercerita. Karena menurutku, jika nanti kita menikah dan semua hal dari dulu sudah kita bicarakan pada saat pacaran. Tidak akan enak hubungn itu, tidak akan ada kenangan yang bisa dibicarakan. Dan sampai pada saat kita memutuskan untuk kerja dulu setelah lulus, barulah nanti setelah kita bisa menghasilkan uang sendiri kita bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi/ S1 dengan ung sendiri.

Dan aku sangat-sangat sedih ketika harus berpisah negara dengan radja, tapi aku juga sangat-sangat menunggu waktu dan janji radja ketika 2 tahun lagi dia pulang. Dia akan menjemputku di taman bunga lily, Belanda. Ia akan melamarku disana. Aku di belanda kuliah sambil melakukan kerja part time.

2 tahun berlalu, aku bekerja belajar. Sampai aku akan lulus eksensiku, dan akan mendapat gelar S1.

Esok hari adalah hari kebahagiaanku, dimana semua keluarga ku dari Indonesia datang untuk menyaksikan kelulusan ku di negara kincir angin ini. Dan 8 orang sahabatku juga datang untuk menyaksikan ini. mereka melakukan perjalanan berjam-jam dipesawat menebrangi benua berbeda. Pukul 07.00 pagi waktu Belanda, aku duduk di bangku urutan 5 dari depan, menyaksikan pidato dosen ku, ketua jurusan, dan sambutan-sambutan. Sampai pada acara puncaknya, kita semua berdiri menyanyikan hymne universitas lalu maju kedepan satu-satu untuk diberi bunga. Kita semua menggunakan seragam wisuda, toga. Berwarna biru, lalu aku maju kedepan, menyalami satu persatu anggota senat kampus. Dan aku duduk kembali. Setalah selesai.. kita semua bersama keluarga masing-masing berfoto-foto.

Banyak juga teman-temanku yang dari belanda ingin berfoto denganku, sampai pada saat aku ingin berfoto dengan 8 orang temanku, aku diberi rangkaian bunga dari orang yang tidak aku kenal, dengan notes “congratulations” aku bingung, namun tidak apa aku merasa bahagia, toh ini hariku, miliku. Siapa saja bisa memberikan surprise. Dan ketika aku sudah siap dengan poseku, ada seorang laki-laki memakai kacamata hitam, lengkap dengan blouse dan kamera digital di lehernya mengambil foto kita. Setelahnya orang itu menunjukan foto nya padaku, lalu ia membuka kacamata dan betapa kagetnya aku, ia adalah radja. Orang yang selama ini aku tunggu. Ia membawakan ku bunga lily, dan membawa cincin. Ia berkata “aku menepati janjiku walaupun tidak ditaman bunga lily, so will you marry me?” dan aku menjawab yaaa. Dia melamarku dihari bahagiaku seumur hidup, di depan keluarga dan sahabat-sahabatku.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s